.


Sudahkah kau mendengar sebuah cerita tentang segenggam cinta?


Mari duduk di sampingku
Kita buat cerita itu








Tuesday, February 14, 2012

Sebuah Percakapan Imajiner



Semangkuk sup basi
Dan nasi sisa kemarin
Sebuah percakapan imajiner tercipta di kepalaku
Tahu kan?
Percakapan yang tidak kita dengar di warung kopi pinggir jalan

“Sudahkah kamu tahu?”
“Belum. Tahu apa?”
“Ada gumpalan di saluran darahku. Menyumbat dan menyesakkan.
Mereka menyebutnya patah.
Aku menamakannya rindu yang salah.”

“Tahukah kamu kenapa bisa begitu?”
“Tidak.”
“Ada dengung yang mengganggu telinga.
Ada pertanyaan yang tak terucap.
Tentang kita.
Tawa.
Duka.
Saling berbagi.
Tentang tatapan mata kamu.
Tentang perjumpaan demi perjumpaan
yang sewajarnya bermakna sesuatu.
Namun…
Tanpa aba-aba
Kamu menjauh.
Tanpa penjelasan.
Hanya ucapan
Yang dengan susah payah kamu rangkai
Agar aku damai.”

Dalam percakapan
Pertanyaan demi pertanyaan meluncur ke udara
Seperti pesta kembang api
Cahayanya luruh ke dalam kali
Tidak hanyut. Hanya mengendap menanti mati.

Bagaimana mungkin ini layak disebut percakapan?
Hanya satu arah.
Ke arahmu.
Arah yang bukan barat bukan timur
Bukan utara bukan selatan.
Hanya kamu yang tahu.
Dan Tuhan.

Well, saatnya berangkat kerja.

No comments:

Post a Comment